top of page

Traveling ala Arsitek

Sebagian orang menganggap kalo traveling adalah kegiatan yang menghambur-hamburkan uang, padahal kegiatan ini sangat erat kaitannya dengan produktivitas kerja. Traveling adalah salah satu cara untuk keluar dari rutinitas dan kegiatan sehari-hari. Traveling menawarkan kesenangan tersendiri bagi siapapun yang menjalaninya. Dengan melakukan traveling, setidaknya kamu bisa mendapatkan dua keuntungan, pertama lepas dari rutinitas kerja, dan kedua menyegarkan kembali pikiran.


Pekerjaan arsitek yang notabene adalah pekerjaan kreatif, dituntut harus selalu menawarkan ide baru yang menarik kepada klien. Tidak jarang ide dan inspirasi datang setelah melakukan traveling. Traveling menjadi sebuah kebutuhan bagi arsitek, dan alasannya sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya yang berjudul Alasan Arsitek Butuh Traveling. Lantas bagaimana cara arsitek traveling? Berikut beberapa tips yang mungkin bisa kamu simak sebelum melakukan perjalanan.

Traveling ala Arsitek
Detail susunan bata sebagai secondary skin Lantern Hotel, Kuala Lumpur. Image by Adityuwana

Menentukan Destinasi

Tentukan destinasi yang akan kamu kunjungi, apakah destinasi dalam negeri atau luar negeri. Destinasi wisata bisa berupa sebuah kota, pulau, negara, wisata alam atau wisata kota. Sesuaikan dengan minat kamu. Setelah itu, lakukan riset mengenai destinasi tersebut, objek atau atraksi apa saja yang ada disana, bagaimana akses menuju kesana, penginapan dan transportasi yang tersedia, izin yang dibutuhkan untuk berkunjung, serta biayanya. Kalo bisa lakukan riset untuk dua hingga tiga destinasi, bandingkan semuanya, lalu pilih salah satunya.


Yang saya lakukan: Saya senang menjelajahi kota (urban traveling) dan punya travel list berisi objek-objek arsitektur yang menarik di sebuah kota atau negara yang saya susun dengan bantuan Archdaily. Mereka mengkategorikan proyek arsitektur berdasarkan lokasinya. Biasanya saya melihat kembali travel list tersebut untuk menentukan destinasi berikutnya. Selanjutnya, saya melakukan sedikit riset terkait biaya, fasilitas, dan cara mencapai kota tersebut. Setelah itu, saya menentukan kapan waktu terbaik untuk kesana dan menyusun rute perjalanannya. Oh iya, saya senang dengan traveling ala backpacker. Selain hemat biaya, kemungkinan untuk bertemu orang baru dan merasakan fasilitas transportasi publik adalah pengalaman yang menyenangkan.

Traveling ala Arsitek
My travel list. Image by Adityuwana

Menentukan Waktu dan Rute Perjalanan

Apakah ada event tertentu di destinasi yang akan kamu kunjungi? Jika ya, ngga ada salahnya menyesuaikan dengan rencana perjalananmu. Kalo kamu adalah seorang mahasiswa atau pekerja kantor, sesuaikan juga dengan jadwal libur kampus atau cuti dari kantor.

Ketika menyusun rute perjalanan, pastikan realistis. Objek wisata yang dekat, sebaiknya dikunjungi di hari yang sama. Jangan menempatkan dua objek yang berjauhan dalam sehari, kamu akan kehabisan waktu diperjalanan. Kamu bisa memperkirakan waktu tempuh menuju objek dan kondisi lalu lintasnya melalui bantuan Google Map.


Yang saya lakukan: Saya bukan tipe traveler yang impulsif. Saya selalu terlebih dahulu merencanakan sebuah perjalanan, mencari waktu terbaik untuk berkunjung, dan menyusun rute perjalanan berdasarkan cara pencapaian menuju objek arsitektur tersebut (walaupun tidak detail). Dalam satu hari, saya bisa mendatangi dua hingga paling banyak tiga objek yang lokasinya berdekatan. Saya juga selalu memastikan bahwa pada hari saya berkunjung, objek tersebut buka dan bisa didatangi.


Biasanya saya mengatur agar tiba di kota tujuan pada pagi atau siang hari. Jadi saya punya waktu beberapa jam untuk mulai mengelilingi kota tersebut sebelum malam. Rugi rasanya jika tiba di suatu kota pada sore atau malam hari, karena harus membayar penginapan padahal kita baru aja tiba. Jika harus mengunjungi beberapa kota yang agak berjauhan di sebuah negara, biasanya saya mengatur agar perjalanan pindah kota tersebut ditempuh pada malam hari (overnight). Jadi saya bisa tidur di perjalanan dan menghemat biaya penginapan.

Kegiatan yang Dilakukan

Tidak seperti turis lainnya, arsitek memilih untuk mengunjungi objek arsitektur yang biasanya malah jarang dikunjungi turis. Tapi tidak menutup kemungkinan, objek tersebut merupakan objek wisata yang terkenal, seperti Art Science & Museum Singapura atau Chichu Art Museum, Naoshima.


Ketika mengunjungi sebuah objek wisata, sempatkan untuk masuk dan menjelajahi tempat tersebut. Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, banyak hal yang dapat dipelajari ketika berkunjung ke sebuah tempat. Luangkan waktu untuk menikmati objeknya dan merasakan suasananya. Jangan lupa untuk mengabadikannya melalui foto atau video.


Jika kamu senang membuat sketsa, ngga ada salahnya melakukan live sketching atau sketch on the spot di tempat yang kamu kunjungi. Hal ini memakan lebih banyak waktu, tapi sama halnya dengan menulis, sketsa di tempat ada salah satu cara yang paling efektif untuk belajar. Dengan mensketsa detail dari sebuah bangunan misalnya, kamu otomatis langsung belajar mengenai detail tersebut. Live sketching juga penuh tantangan, misalnya bagaimana jika cuaca tiba-tiba berubah, atau bagaimana jika disekitar kita suasananya ramai.

Traveling ala Arsitek
Perpaduan tiga material yang berbeda di bangunan Innovation Tower, Hong Kong. Image by Adityuwana.

Yang saya lakukan: Tempat yang saya datangi bisa berupa bangunan atau pun sebuah kawasan. Saat mengunjungi sebuah bangunan, saya lalu berkeliling, masuk ke dalamnya, merasakan pengalaman ruangnya, memegang materialnya, bahkan memperhatikan detail bangunannya. Beberapa karya arsitektur bisa membuat kita berpikir “Ooo…ternyata bisa ya dibuat seperti ini”, atau “Kayaknya bisa nih ide ini dipakai dalam proyek yang lagi digarap”. Semua hal tersebut saya dokumentasikan melalui foto.


Saya senang sketsa, tapi saya nggak melakukan live sketching saat traveling. Untuk menghemat waktu, saya lebih memilih memotret objek atau detail dari sebuah bangunan, kemudian mempelajarinya atau membuat sketsanya.

Asiknya melakukan perjalanan tanpa ikut tur agen, adalah karena bisa mengatur sendiri tempat yang akan dikunjungi, naik kendaraan apa, jam berapa, dan selesai jam berapa. Bisa dibayangkan jika ikut tur, belum sempat menikmati sebuah karya, udah dipanggil untuk naik bus.

Untuk akomodasi, kadang saya memilih hotel independen dengan konsep yang menarik. Beberapa dari hotel ini juga ditampilkan di situs-situs arsitektur dalam dan luar negeri. Ketika masuk ke kamarnya, saya memperhatikan tata letak perabotnya, bagaimana mengatur furniture agar tidak terkesan sempit, perletakan kamar mandi, bahkan saya kadang mengukur jarak antara tempat tidur dengan meja, ukuran kamar mandi, agar mengerti bahwa dimensi tersebut nyaman atau tidak untuk saya sebagai tamu.

Traveling ala Arsitek
Bohlam lampu yang dicover potongan botol di Mezanine Cafe, Yogyakarta. Image by Adityuwana
Traveling ala Arsitek
Kamar mandi transparan, wastafel, dan gantungan baju bergaya industrial di Hotel Hart, Hong Kong.

Perlengkapan

Selain pakaian dan peralatan mandi, berikut ini adalah beberapa perlengkapan yang biasanya saya bawa dan saya rekomendasikan saat traveling.

Traveling ala Arsitek
Perlengkapan traveling.

  1. Smartphone. Benda wajib saat traveling. Selain sebagai alat komunikasi, smartphone saya berisi beberapa aplikasi pendukung traveling seperti aplikasi cuaca, peta, informasi destinasi, dan beberapa aplikasi produktivitas karena kadang saya masih melakukan pekerjaan ringan seperti review dan koreksi desain. Kamera smartphone juga bisa sebagai alat dokumentasi perjalanan, jika tidak membawa kamera.

  2. Acome Powerbank. Kamu perlu memperhatikan kapasitas powerbank yang akan dibawa. Beberapa maskapai tidak memperbolehkan kamu membawa powerbank dengan kapasitas yang besar.

  3. Tronsmart Travel Adapter. Siapkan sebuah travel adapter, terutama jika kamu bepergian keluar negeri. Saya pernah kesulitan dengan hal ini karena harus bergantian dengan teman.

  4. Fujifilm X-A10. Kalo kamu nggak hobi fotografi, sebenarnya kamera smartphone sudah cukup untuk traveling, apalagi jika hape kamu sudah disertai wide-lense. Beberapa objek arsitektur butuh lensa dengan focal length yang lebar, agar dapat diambil secara maksimal. Saya sendiri selalu membawa sebuah kamera mirrorless jika bepergian, karena ada kondisi tertentu dimana menggunakan kamera hape kurang oke. Kalo mau tau tips fotografi arsitektur, bisa baca disini.

  5. Airpods. Perangkat wajib (bagi saya) untuk mendengar podcast dan musik saat menunggu di airport atau pun di tempat lain.

  6. Waterplus+ Bottle. Kalo keluar negeri, daripada membeli air mineral yang cukup mahal, saya memilih untuk mengisi ulang botol air minum di tap water yang dapat ditemukan di mana-mana. Lebih ramah lingkungan, dan lebih terlihat keren daripada botol plastik.

  7. Pen. Alat tulis digunakan untuk mengisi kartu imigrasi, menandatangani dokumen, dan kebutuhan menulis lainnya. Saya membawa lebih dari satu untuk berjaga-jaga.

  8. Notebook/Buku Sketsa A6. Siapkan sebuah buku tulis atau notebook untuk mencatat pengeluaran, urutan rute, dan sebagainya. Oh iya, kalo kamu senang live sketch, siapkan buku sketsa. Pilih ukuran A6 agar mudah dibawa.

  9. Payung. Saya beberapa kali pernah kehujanan di perjalanan sehingga terpaksa berteduh dan ngga bisa kemana-mana, dan hal ini sangat menjengkelkan karena membuang banyak waktu. Ngga ada salahnya membawa jas hujan dan payung. Cari yang ringkas biar ngga ngambil banyak tempat di tas.

  10. Consina Storm Breaker Raincoat. Jas hujan yang bisa dilipat sehingga lebih ringkas.

  11. Ugreen Storage Bag. Untuk menyimpan perlengkapan kecil dan kabel charger.

  12. Eiger X Steripac. Karena ketika artikel ini ditulis masih masa pandemi, barang-barang ini wajib ada. Isinya masker, hand sanitizer, dan sabun kertas.

  13. Hamlin Adnya Passport Holder. Biar lebih aman dan terorganisir. Kompartemennya cukup banyak untuk menaruh dokumen-dokumen perjalanan.


Selain perlengkapan diatas, kamu juga bisa melihat perlengkapan lain di halaman ini, yang mungkin cocok untuk kamu gunakan ketika akan berwisata.


Peka Terhadap Sekitar

Selain sebagai kegiatan untuk bersenang-senang dan melepas penat, traveling juga bisa dijadikan kegiatan untuk menambah wawasan. Sebagai arsitek, kita sudah terbiasa untuk lebih perhatian terhadap hal-hal di sekitar kita. Pola, bentuk, tekstur, warna, bayangan, pertemuan antar material yang berbeda, serta detail-detail kecil selalu menjadi perhatian bagi arsitek yang belum tentu menjadi perhatian orang lain. Kepekaan seperti ini bisa dilatih seiring waktu. Jika kamu berada disuatu tempat, cobalah untuk memperhatikan keadaan di sekitar kamu.


Yang saya lakukan: Saya selalu memegang kamera (entah itu kamera smartphone atau mirrorless) agar bisa dengan mudah mengambil gambar saat menemukan objek yang menurut saya menarik, contohnya seperti yang bisa kamu lihat dari foto-foto dibawah ini. Bagi orang awam, hal-hal seperti ini mungkin biasa saja. Tapi bagi kita arsitek, semua ini merupakan hasil dari sebuah perancangan, serta ada alasan dan pertimbangan dibalik itu semua.

Dari kiri atas searah jarum jam: (1) Detail signage Hotel Hart, Hong Kong yang terbuat dari metal menjadi perpaduan yang menarik dengan dinding semen ekspos. (2) Pertemuan material dan elemen yang berbeda di sebuah taman di Brass Basah, Singapura. (3) Furniture yang terbuat dari kayu bekas yang pas dengan konsep Greenhost Hotel, Yogyakarta. (4) Kombinasi warna yang menarik dari sebuah rumah di kota Venesia, Italia. (All Images by Adityuwana)


Karena menyukai fotografi, traveling juga menjadi salah satu cara saya menambah koleksi karya fotografi. Saya juga pernah menulis artikel mengenai tips fotografi arsitektur.


Dengan traveling, kita bisa mendapatkan banyak pengalaman, membuka pikiran dan menambah wawasan, serta lepas sejenak dari rutinitas harian dan men-charge kembali otak kita dengan ide-ide baru dengan harapan bisa lebih produktif setelahnya. Semoga postingan ini bermanfaat ya. Bye!

200 views

Comments


bottom of page