top of page

Arsitek Tur: Dua Hari Wisata Arsitektur di Jogja

“Dit, aku di Jogja nih, nanti meetup ya” kata seorang teman yang baru aja menginjakkan kaki di Yogyakarta International Airport. Setelah dua tahun PPKM, PSBB dan sebagainya, akhirnya Jogja rame kembali. Apalagi setelah syarat perjalanan dilonggarkan. Orang-orang yang selama ini menahan diri untuk tidak bepergian, menunda agenda outing kantor, akhirnya pada mulai traveling kembali.


Traveling bagi saya adalah sebuah keharusan. Saya pernah menuliskan alasan kenapa arsitek butuh traveling, salah satunya adalah karena arsitek perlu mengembangkan wawasan, pengetahuan, dan cara pandangnya secara terus menerus. Saya sendiri senang wisata kota dan belakangan sudah mulai melanjutkan hobi wisata arsitektur, meskipun cuma berwisata keliling kota Jogja dan sekitarnya. Asik rasanya menelusuri bangunan tua, mengunjungi kafe dan restoran yang unik, atau menginap semalam di hotel yang arsitekturnya unik dan menarik. Apalagi menjalaninya dengan menggunakan transportasi umum, bersepeda atau berjalan kaki.

Jogja sebagai alternatif destinasi wisata, memiliki banyak hasil karya arsitektur untuk ditelusuri, khususnya bagi kamu penggemar bangunan heritage. Kalo kamu punya waktu 48 jam untuk berwisata, berikut ini rute dan objek wisata arsitektur di Jogja yang saya rekomendasikan.

Hari Pertama

Beberapa tempat dibawah ini letaknya agak berjauhan. Kamu mungkin perlu menggunakan jasa transportasi online untuk menjangkaunya.


09.00 - Candi Prambanan

Objek wisata arsitektur pertama adalah Candi Prambanan yang merupakan salah satu candi Hindu terbesar di Indonesia dan termasuk dalam situs warisan dunia UNESCO. Candi prambanan terdiri dari 3 Candi Trimurti (Candi Siwa, Wisnu, dan Brahma), 3 Candi Wahana (Candi Nandi, Garuda, dan Angsa), 2 Candi Apit, dan 4 Candi Kelir yang terletak di 4 penjuru mata angin tepat di balik pintu masuk halaman dalam atau zona inti. Denah candi mengikuti pola mandala, sementara bentuk candi yang tinggi menjulang merupakan ciri khas candi Hindu. Di dalam kompleks candi Prambanan juga terdapat Candi Sewu yang nggak kalah menarik. Berbeda dengan candi Prambanan yang merupakan candi Hindu, candi Sewu adalah candi Buddha. Jadi dalam satu kompleks candi Prambanan, kita bisa menikmati beberapa candi yang berbeda, termasuk candi Sewu, candi Lumbung, dan candi Bubrah.


Tiket Masuk: Dewasa Rp 50.000, Anak Rp 25.000

Candi Prambanan
Candi Prambanan. Image by Adityuwana

12.30 - Sabin by Seken Living

Ngga ada salahnya mampir ke Sabin untuk santap siang. Kalo bisa datang sebelum jam makan (kalo nggak pengen masuk waiting list). Arsitekturnya unik dengan sebuah bangunan utama yang bergaya industrial. Lahan yang memanjang dimanfaatkan untuk restoran, coffeeshop, store, multipurpose, dan taman. Konsep ruangnya dibuat terbuka untuk mendapatkan kesan luas dan segar. Karena konsepnya terbuka, sirkulasi udara di dalam ruangan dapat mengalir dengan lancar tanpa terhalang oleh dinding atau dinding pemisah. Keunikan lainnya adalah dari pemilihan material bangunan yang didominasi baja dan kayu. Banyaknya vegetasi membuat keseluruhan material yang terkesan 'hard' menjadi lebih lembut.

Sabin Seken Living
Sabin by Seken Living. Image by Adityuwana.
Sabin Seken Living
Bangunan utama didominasi baja dan kayu. Image by Adityuwana.
Sabin Seken Living
Area taman lengkap dengan kolam ikan. Image by Adityuwana.

15.00 - Malioboro & Titik Nol Kilometer

Belum ke Jogja kalo belum ke Malioboro. Jalan ikoniknya Jogja yang satu ini bisa kamu telusuri dengan berjalan kaki mulai dari Stasiun Tugu hingga ke Titik Nol Kilometer. Selain aktivitas perbelanjaan, di sepanjang jalan kamu akan menemui banyak objek wisata arsitektur dan bangunan kolonial, mulai dari Hotel Grand Inna, Rathkamp Apotheek (sekarang Kimia Farma), Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, Gedung Agung, Gedung Bank Indonesia, Kantor Pos Besar, dan Gedung Bank BNI 46 yang terletak di Titik Nol Kilometer.

Stasiun Tugu Jogja
Stasiun Tugu Yogyakarta. Image by Adityuwana.

Jika kamu menelusuri lebih dalam, beberapa atraksi dan objek menarik bisa didapatkan di Kampoeng Ketandan, daerah pecinan hasil akulturasi dari budaya Tionghoa, Keraton dan warga Kota Yogyakarta. Suasana di kampung ini didominasi dengan bangunan kuno. Daerah menarik lainnya adalah Jalan Sosrowijayan yang merupakan kampung turis. Habiskan waktu menikmati suasana di kawasan ini hingga menjelang jam makan malam.

Kampoeng Ketandan.
Kampoeng Ketandan, Yogyakarta. Image by Adityuwana.

19.00 - Via-Via Cafe

Via-Via Cafe menjadi pilihan banyak turis mancanegara yang berkunjung di Yogyakarta. Mereka menyajikan aneka makanan Indonesia dan Barat, sesuai dengan tema yang diusung "East Meets West, West Meets East". Terletak di jalan Prawirotaman, bangunan ini didesain oleh arsitek Eko Prawoto dengan konsep ramah lingkungan dengan penggunaan material alami dan pengaturan bukaan yang memungkinkan ruangan mendapatkan sirkulasi udara yang baik meski tanpa AC. Via-Via Cafe juga sebagai hub bagi para backpacker dan tempat pameran seniman-seniman muda Yogyakarta.

 

Hari Kedua

Berbeda dengan hari pertama, hari kedua dimanfaatkan dengan berkeliling pusat kota Yogyakarta mengunjungi objek wisata arsitektur yang sebagian besar adalah bangunan heritage.


07.30 - Sapulu Coffee

Kalo mau menikmati kota Jogja sejak pagi, coba mampir ke Sapulu Coffee. Coffeeshop ini buka sejak pagi dan lokasinya berada tepat di sebuah Guest House bernama Chendela. Walaupun tempatnya agak kecil, suasananya menarik dan colourfull. Kamu bisa sarapan disini sebelum memulai Arsitek Tur Jogja hari kedua.

Sapulu Coffee.
Sapulu Coffee yang penuh warna. Image by Adityuwana.

09.00 - Taman Sari

Taman Sari adalah kompleks bekas kebun istana Keraton Yogyakarta yang dibangun sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana I. Dulunya kompleks ini memiliki luas sekitar 10 Ha yang terdiri dari bangunan, kanal, terowongan bawah air, hingga danau buatan. Saat ini pengunjung hanya bisa menikmati 3 area utama saja, yakni Umbul Wingangun (Kolam Pemandian), Sumur Gumuling (Masjid Bawah Tanah), dan Pulo Kenanga. Gaya arsitektur dalam kompleks Taman Sari adalah perpaduan antara arsitektur Jawa dan Portugis.


Tiket Masuk: Rp 5.000 (+Rp 3.000 untuk foto permit jika membawa kamera profesional)

Taman Sari Water Castle
Umbul Winangun di Kompleks Taman Sari. Image by Adityuwana.
Taman Sari Water Castle
Gapura Agung (kiri), dan reruntuhan bangunan Pulo Kenanga. Image by Adityuwana.

Sebelum melanjutkan perjalanan, sempatkan mengunjungi Masjid Soko Tunggal yang terletak di area pintu masuk kompleks Taman Sari. Masjid yang dibangun sejak tahun 1972 ini memiliki keunikan pada tiang penyangganya yang hanya berjumlah satu batang, berbeda dengan bangunan tradisional Jawa lainnya yang memiliki empat tiang penyangga.

Masjid Soko Tunggal
Gerbang dan tiang utama Masjid Soko Tunggal. Image by Adityuwana.

11.00 - Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Yogyakarta yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I pada tahun 1755. Kompleks Keraton Yogyakarta berdiri diatas lahan seluas 14.000 m2 dan terdiri dari beberapa area yang membentang dari Alun-Alun Utara hingga Alun-Alun Selatan. Setiap area di dalam kompleks Keraton memiliki bangunan berbentuk Joglo yang memiliki fungsi masing-masing. Setiap area utama terdiri dari halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, dan dipisahkan oleh dinding penyekat. Bangunan-bangunan dalam kompleks Keraton bergaya arsitektur Jawa namun beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis dan Belanda.


Tiket Masuk: Rp 15.000 (tambahan biaya untuk foto permit jika membawa kamera profesional)

Keraton Jogja
Pendopo utama Keraton Yogyakarta. Image by Adityuwana.

Tepat di seberang Keraton Yogyakarta, terdapat Masjid Gedhe Kauman. Masjid ini dibangun tahun 1773 M dan menjadi penegasan keberadaan Yogyakarta sebagai kerajaan Islam. Gaya arsitektur Masjid Gedhe mewarisi gaya Masjid Demak dengan bangunan induk berbentuk tajug persegi tertutup dengan atap bertumpang tiga. yang menggambarkan tahapan dalam menekuni ilmu, yakni tasawuf, yaitu syari’at, tareeqat, ma’rifat.



13.00 - Nest Coffee & Donuts

Pengen ngopi sekaligus makan siang? Rekomendasi saya, Nest Coffee & Donuts. Sama halnya dengan Sabin, tempat ini juga merupakan bagian dari Seken Living. Dibuka tahun 2020, dari arah jalan bentuk bangunannya sangat mencuri perhatian. Bangunan karya Tim Tiga Arsitek ini mengusung konsep industrial dan ramah lingkungan dengan banyak area terbuka. Nest Coffee juga menyajikan banyak detail arsitektur yang menarik. Tata massanya diatur dengan sangat baik dengan pembagian zona yang jelas antara area makan, dan galeri furniture. Dinding unfinished di seluruh permukaan bangunan, penggunaan kayu ulin bekas di lantai bangunan, dan susunan potongan kayu bekas sebagai partisi dinding, adalah beberapa hal unik yang bisa dinikmati.

Nest Coffee Donuts Jogja
Galeri interior dengan konsep yang unik. Image by Adityuwana.
Nest Coffee Donuts Jogja
Konsep ramah lingkungan. Image by Adityuwana.
Nest Coffee Donuts Jogja
Penuh detail menarik; anyaman sebagai ventilasi, pintu jalusi, susunan potongan kayu bekas. Image by Adityuwana.

15.30 - Kotagede

Kawasan Kotagede yang terkenal dengan kerajinan peraknya, adalah bekas ibukota kerajaan Mataram Islam yang berdiri tahun 1532 M. Di kawasan ini terdapat banyak peninggalan sejarah mulai dari arsitektur bangunan maupun kehidupan sosial budaya. Masjid Gedhe Mataram Kotagede dan Makam Raja Kotagede yang letaknya bersebelahan, adalah salah dua objek wisata yang wajib dikunjungi. Masjid ini adalah masjid tertua di Yogyakarta yang dibangun sekitar tahun 1580-an.


Tiket Masuk: Gratis

Kotagede Jogja
Gerbang makam Raja-Raja Mataram di Kotagede. Image by Adityuwana.

Jika berjalan sekitar 50 meter ke arah Selatan kompleks masjid, kamu akan menemukan ‘Between Two Gates’, atau Kampung Alun Alun. ‘Between Two Gates’ adalah lorong kecil bagian dari lingkungan permukiman yang bersifat semi tertutup dan diapit oleh gerbang pada kedua ujungnya. Lingkungan tersebut terbentuk dari sejumlah joglo yang terdiri atas dalem dan pendhapa yang berjajar dalam satu deret. Lorong ini menandakan kerukunan masyarakat di Kotagede.


Tiket Masuk: Gratis

Kotagede Jogja
Beberapa rumah di lorong Between Two Gates. Image by Adityuwana.
Kotagede Jogja
Kondisi jalan dan sudut-sudut Kotagede. Image by Adityuwana.

Jika punya waktu lebih, kamu bisa menelusuri Kotagede lebih dalam lagi. Beberapa tempat menarik yang bisa kamu lihat adalah Masjid Perak, Rumah Persik, dan Omah UGM. Oh iya, cara terbaik untuk berkeliling Kotagede adalah dengan berjalan kaki karena jalan-jalan di dalamnya cukup sempit.


18.00 - Warung Bu Ageng

Warung yang terletak di jalan Tirtodipuran ini dikenal karena masakan rumahannya. Bangunannya tradisional dengan didominasi kayu seken dari pedagang kayu lokal di Jogja. Kesan tradisionalnya juga semakin diperkuat dengan penggunaan perabot yang terbuat dari bahan yang sama. Di satu sisi dinding bangunan, terdapat kumpulan foto hitam putih orang-orang terkenal Indonesia yang lahir dan besar di Jogja. Jika mampir kesini, saya merekomendasikan Nasi Campur Ayam Bakar Suwiran dan Bubur Duren Mlekoh. Warung Bu Ageng tutup pada hari Senin.

Warung Bu Ageng Jogja
Interior Warung Bu Ageng. Image by Adityuwana

Warung Bu Ageng adalah destinasi terakhir dari wisata arsitektur Jogja. Kalo kamu masih punya waktu setelah makan malam, coba mampir ke Alun-Alun Kidul yang letaknya ngga jauh dari Warung Bu Ageng. Kamu bisa melihat suasana keramaian disana dengan lampu warna-warni dari mobil gowes, atau kamu bisa mencoba berjalan dengan mata tertutup melewati beringin kembar.


Selamat berwisata, guys!

43 tampilan

Postingan Terkait

Comentarios


bottom of page